Behel, Bye Bye Bye! :)

4 May

Setelah 4 tahun lebih pake behel a.k.a kawat gigi, finally… di lepas juga itu behel & kawan-kawannya. Sebenernya sih bisa pake selama itu bukan karena aku betah, tapi karena memang belum puas sama hasilnya. Berbeda dengan kebanyakkan ABG sekarang yang pake behel buat gaya-gayaan, kalo aku pakai behel memang untuk merapihkan bentuk & struktur gigi. Kesan pertama setelah lepas behel? Seems like there’s something missing in my mouth, hahaaa ヅ

Sedikit flashback, tahun pertama pemasangan kawat gigi itu adalah yang paling berat. Berhubung aku pakai kawat gigi memang untuk merapihkan bentuk gigi, jadi pastinya ada sesi ‘tarik’ untuk proses perapihan gigi itu. Rasanya? Hmmm.. jangan ditanya! Rasa ‘ngilu’ di gigi terasa bukan cuma saat proses penarikkan, tapi sampe minimal 2  hari ke depan. Masih bisa sih makan nasi, cuma lauknya memang gak bisa yang terlalu keras. Bahkan seringkali malam pertama setelah ‘penarikkan’ itu kepala pusingnya bukan main. Makanya aku gak habis pikir, kok banyak banget ABG yang giginya udah rapih malahan kepingin pakai kawat gigi? Bahkan bela-belain masangnya di Ahli Gigi (yang memang harga pemasangannya jauh lebih murah dari dokter gigi)–padahal gigi itu pusat seluruh syaraf manusia lho, salah tindakan dikiiiit aja bisa berakibat fatal. Hiiiyyyy…

Anyway… setelah lewat tahun pertama pemasangan, struktur gigi mulai membaik & merapat. Sesi penarikkan pas kontrol gigi per 2 minggu gak lagi bikin sakit di area gigi & sekitarnya. Honestly, pertama kali pake kawat gigi itu aku merasa aneh, mulut kaya’ ada yang mengganjal. Tapi Alhamdulillah sih, lama-kelamaan mulai terasa nyaman. It’s like…the dental braces was being a part of me, that’s why it feels like there’s something missing in my mouth right after the dentist took them from my teeth. But.. using them again? Ughh… I don’t think so! :D

Bye Bye Bye.. Dental Braces! ♫

Tags: ,

How to deal with Pregnant Woman

27 Apr

Selama ini kebanyakkan orang taunya bahwa hal yang berat dari kehamilan adalah saat melahirkannya, TITIK. Padahal proses dari awal hamil sampai melahirkanbahkan sesudahnya bukan hal yang mudah untuk dijalani. Mulai dari mual-mual yang bikin ga nafsu makan, muntah, pusing, bahkan kram. Belum lagi di trimester akhir kehamilan dimana perut udah semakin besar, yang seringkali bikin punggung sakit seharian, kaki makin gampang kram & bengkak, pegal-pegal hampir semua badan, bahkan tidur juga sudah makin sulit karena  perut yang besar itu. Ditambah beban psikologis karena berbagai macam kekhawatiran yang seringkali mengganggu pikiran wanita hamil, terutama mereka yang sudah makin dekat sama waktu persalinan. It’s not easy to experience all those things, seriously. Itulah kenapa wanita hamil cenderung lebih sensitif, dan untuk orang-orang yang berada disekitarnya pesanku cuma satu : be wise!

Step 1. Be her friend not her teacher!

Gak ada masalah sih kalo mau kasih saran-saran seputar kehamilan, terutama buat mereka yang sudah pernah hamil & melahirkan. Sharing itu menyenangkan kok, yang menyebalkan adalah ketika si pemberi saran ini mulai bertingkah seperti menggurui, atau bahkan menakut-nakuti. Misalkan gini, “Kalo hamil itu wajib lho minum susu hamil, kalo gak nanti anaknya bodoh.”. Ohh… please!!

Step 2. Stop calling her fat!

Sudah hukum alamnya kalo setiap wanita yang hamil otomatis bobot badan nya akan bertambah gemuk (artis-artis Hollywood juga begitu, kok). Actually, sedikit menjadi lebih gemuk itu gak terlalu jadi masalah buat para wanita hamil, masalahnya adalah ketika orang-orang mulai berkomentar menyindir atau bahkan seringkali dijadikan bahan bercandaan / lelucon mengenai kenaikkan berat badannya itu. Sekali dua kali mungkin lelucon ini masih terdengar lucu, tapi kalo keseringan diledek begini, siapa juga yang tahan? Komentar-komentar ini yang paling sering muncul, “Kok paha lo nambah gede sih?”, “Muka lo sekarang bulet ya!”, “Nambahan gendut aja!”. Seriously, it’s a sensitive issue for a woman!

Step 3. Don’t make a jokes about her pregnancy, mostly about the baby!

Jangan sekali-kali menjadikan kehamilan sebagai bahan untuk lelucon, apalagi objek leluconnya si bayi yang lagi dalam kandungan. Ouch! You’re just going to hurt her feeling.

Step 4. Don’t touch her pregnant belly too much!

Jangan terlalu sering memegang perut teman wanita yang sedang hamil. Kenyataannya gak semua orang merasa nyaman saat disentuh perutnya. Kalau bukan suami atau keluarga dekatnya, lebih baik hindari deh terlalu sering memegang perut hamilnya. Sesekali sih gak apa-apa kok, but if you touch her belly too oftenshe’s going to feel uncomfortable.

Step 5. Stop judging too much!

Ada sebagian wanita hamil yang benar-benar mengalami susah makan karena mual yang sangat  parah (Hiperemesis gravidarum) , sehingga berat badannya & baby tergolong rendah. Kebanyakkan keluarga disekitarnya cuma akan menyalahkan si wanita yang dianggap gak mau makan, padahal bukannya dia gak mau makan–tapi kenyataannya memang dia sulit untuk mencerna makanan karena mual-mualnya itu. Daripada sibuk menyalahkan dia, kenapa gak coba bantu cari solusi? Misalnya cari tau makanan apa yang cocok di perutnya, dan belikan makanan itu. Terlalu banyak menyalahkan atau berkomentar sinis cuma akan membuat si wanita hamil merasa stres & terpojok. Bantu dia untuk mengatasi keluhan selama kehamilan, she’ll be thankful for any support you gave to her.

Well, masa kehamilan sebenarnya banyak sisi menyenangkannya juga kok. Walaupun perjalanannya emang kadang gak mudah–but it’s still a precious experience, and pregnancy is definitely a gift from God. As her family or her friend, you just have to be more sensitive to a pregnant woman. Support her, and help her through her pregnancy days. :)

♥♥♥

“A baby is something you carry inside you for nine months, in your arms for three years and in your heart till the day you die.” – Mary Mason.

♥♥♥

Tags:

Brave to Leave the “Comfort Zone”

19 Apr

What is “Comfort Zone”? Sebenernya sih Comfort Zone alias “Zona Nyaman” ini gak bisa di artikan secara pasti karena tingkat kenyaman & ‘wilayah aman’ tiap orang berbeda-beda. Tapi… in my humble opinion, comfort zone adalah suatu situasi dimana seseorang merasa semua sudah terasa nyaman, sehingga orang tersebut terlalu ragu atau bahkan takut untuk ‘melangkah’ keluar atau melakukan sesuatu yang baru / berbeda dari kebiasaannya. Menurutku lagi nih, biasanya comfort zone ini ‘penyakit’ dalam urusan karir, ya walaupun bisa juga sih merambah ke kehidupan pribadi atau keuangan. Mungkin supaya lebih jelas, let me describe it with some story..

–Case 1–

Si A sudah bekerja sangat lama pada sebuah perusahaan. Karirnya tidak terlalu berkembang dalam arti penghasilan pun tidak ada kenaikkan yang signifikan. Tapi si A gak pernah berani untuk mencoba apply pekerjaan di tempat lain, he/she was too comfort with his/her current job. Yaa walopun secara materi gak kurang, tapi ya gak lebih. Posisi karirnya pun stuck, but he/she think that was enough.

–Case 2–

Ada seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah bekerja dan mempunyai suami yang mapan secara finansial. Suatu saat rekan kerja suaminya menawari si ibu tersebut sebuah pekerjaan di kantor dengan posisi tinggi dan penghasilan yang besar. Tapi, ibu itu menolak. Padahal anak-anaknya sudah besar (sudah bisa mengurus dirinya sendiri), dan kondisi keuangan keluarganya sedang dalam kondisi yang tidak terlalu bagus. Masalahnya hanya satu, si ibu sudah terbiasa di rumah saja, and she was too afraid to take a whole new activities for her life.

–Case 3–

Sepasang sejoli yang berbeda agama sudah menjalani hubungan pacaran backstreet bertahun-tahun. Mereka sebenarnya sadar kalau hubungan mereka pada akhirnya akan menemui jalan buntu karena perbedaan tersebut. But they were too afraid to end it sooner because they were too comfort with each other.

Comfort Zone isn’t always Comfort

Yap! This is the truth! Walaupun namanya ‘Zona Nyaman’ belum tentu kondisi itu paling nyaman atau bisa dibilang kondisi yang terbaik buat hidupnya. Misalkan di case 1, mungkin saja sebenarnya si A iri  melihat kawan-kawan seumurannya yang lebih mapan, tapi dia terlalu takut untuk mencari bekerja di tempat lain karena gak mau beradaptasi lagi dengan perusahaan & job desk yang baru. Atau pada case 2, si ibu mungkin sebenarnya mulai merasa bosan begitu anak-anak sudah besar karena lebih sering sendiri di rumah, pekerjaan rumah tanggapun sudah di handle oleh pembantu, tapi begitu di tawari pekerjaan yang berbeda di luar kebiasaannya, si ibu malah memilih menolaknya. Pada case 3 mungkin saja si perempuan sudah merasakan dilema terlalu lama karena sadar betul dia tidak mungkin pindah agama begitu saja dan begitu juga pacarnya. Mereka tidak saling mengenalkan pasangan ke keluarga. Tapi karena mereka  sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan satu sama lain, jadilah dua-duanya gak berani untuk mengakhiri hubungannya.

Setiap orang pasti pernah berada pada “Zona Nyaman” ini. Sebagian orang berani untuk melangkah maju, tapi sebagian lagi memilih untuk diam di tempat. Yap, I’ve been there too (obviously)! And what I’m trying to say is.. jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada. Emang sih, mencoba hal/kebiasaan yang baru itu pastinya akan diiringi oleh berbagai macam kekhawatiran. Tapi mungkin saja hal baru itu bisa membawa hidup ke arah yang lebih baik. Jangan sampai suatu saat nanti ketika menoleh ke belakang, hidup ternyata dipenuhi penyesalan dan sering berandai-andai, “Seandainya dulu gue …… sekarang gue pasti …….”

Life is all about choices. So, choose every steps wisely! :D

Tags: ,

Please smoke WISELY (at least)!

20 Mar

Have you ever heard this stupid phrase?  

“Mendingan jadi perokok aktif sekalian daripada cuma jadi perokok pasif. Jadi perokok pasif kan lebih berbahaya dibandingin perokok aktif.”

Why I called it stupid? Because it does! Sekarang gini deh, orang yang aktif merokok itu kan otomatis menghirup asap rokoknya juga, artinya seseorang yang merokok secara aktif ya dia juga seorang perokok pasif. Jadi dimana sisi ‘mendingan’ nya itu? But, well.. aku sih gak bermaksud membahas tentang bahayanya merokok buat para perokok aktif—lha semua perokok udah pada tau kan bahayanya? Tertulis jelas kok di bungkus rokoknya, atau kalau mau tau lebih banyak lagi tentang efek buruk rokok langsung aja baca artikel ini. Aku sih lebih concern sama sikap para perokok yang (semoga) bisa lebih menghargai orang-orang di sekelilingnya yang gak ngerokok. Please smoke wisely, people!

Please STOP Smoking Everywhere!

Yap, it’s your own choice to smoke. It’s your own risk, your own life, your own heart, and bla bla bla! I don’t care, smokers! The only problem is,  kebanyakkan perokok itu merokok dimana aja—kapan aja.  Di angkot, di jalan, di mobil,bahkan kadang di ruangan ber-AC sekalipun, pokoknya dimanaaa aja! Setiap bangunan itu pasti punya ruangan merokok (smoking room), kenapa gak manfaatin aja fasilitas itu?! Atau nggak, cari lah udara bebas di luar sana dan merokok jauh dari orang-orang. So, you are ‘killing’ yourself—not the others!

Please STOP Smoking in Public Transportation!

Kenapa sih di transportasi umum itu masih suka banyak orang merokok sembarangan? Gak pernah terlintaskah di pikiran para perokok ini kalo di angkutan umum itu gak semuanya merokok tapi terpaksa harus menghirup ‘sampah’ mereka?! I mean, I know if you don’t care with your own healthy, but I DID! Please stop this annoying habit!

Please STOP Smoking Near Your Family (esp. Pregnant Woman & Baby)!

“Seseorang yang tidak merokok, tetapi berada di sekitar orang yang merokok dan mengisap asap rokok, atau disebut juga perokok pasif, akan ikut terkena dampak dari bahaya rokok. Menurut data, lebih dari 600.000 perokok pasif tiap tahunnya meninggal.” (source : doktersahabatkita.com)

“Anak-anak yang ayahnya merokok memiliki risiko 15 persen lebih tinggi terkena kanker yang paling umum menyerang anak yakni leukimia atau kanker darah.” (source : detikhealth.com)

“Seorang gadis remaja bernama Tika (@tikuyuz) adalah salah satu korban yang meninggal akibat perokok pasif. Dalam status-statusnya Tika menegaskan dia tidak merokok tapi dia adalah korban dari asap si perokok. Dia menulis dirinya terkena flek paru dan divonis dokter menderita Bronchopneumonia Duplex.(source : detik.com)

“Bayi Lahir Mati Karena Ibu Hamil Merokok 20 Batang Sehari.”  (source : detikhealth.com)

Menyedihkan sekali melihat anak-anak yang memiliki orang tua perokok sepertinya ‘terbiasa’ berada di sekitar orang tuanya saat merokok. Padahal sadar atau nggak, si orang tua sedang meracuni paru-paru anaknya. Kalo memang mau merokok, jangan di dekat siapapun yang nggak merokok, meskipun itu keluarga sendiri. If you love your family, stop smoking—or at least stop smoking around them!

Tags:

Serunya Kuliah sambil Kerja

7 Mar

Waktu kuliah dulu, sama sekali gak pernah kepikiran olehku buat kerja sambilan. Soalnya yang terbayang adalah betapa ‘riweuh’ nya kalo dua hal itu dijalani sekaligus. Mindset ku pada waktu awal kuliah adalah “lulus tepat waktu”—khawatirnya kalo dijalani sambil kerja yang ada kuliah malah jadi ‘ngaret’ lulusnya. Saking kepingin lulus tepat waktu, aku sempat menolak tawaran magang di salah satu perusahaan konsultan Arsitektur yang cukup besar di Jakarta, dikarenakan perusahaan itu hanya menerima mahasiswa magang yang mau bekerja full time selama minimal 3 bulan. Berhubung aku gak berani ambil cuti, finally I didn’t take the offerwhich is… I regret now (of course).

Satu hal yang paling penting diketahui buat para mahasiswa Arsitektur adalah, ‘nyawa’ kesuksesan seorang Arsitek bukan diukur dari kecepatan waktu kuliahnya—jauh lebih penting dari itu adalah pengalaman kerja & portfolio hasil pekerjaan (atau untuk fresh graduate portfolio tugas-tugas kuliahnya). But, well.. karena satu dan lain hal, toh pada akhirnya kuliahku ngaret satu semester. Sebelum mengambil Tugas Akhir (istilah Skripsi-nya anak Arsitektur), aku memutuskan buat cuti 1 semester untuk bekerja full time di salah satu konsultan Arsitektur di Jakarta.

Waktu masih dalam masa cuti kuliah, pastinya kerja sama sekali gak ada masalah. Tapi begitu sudah mulai masuk kuliah lagi, baru deh kerasa ‘seru’-nya kerja sambil kuliah. Apalagi kerjaanku waktu itu full time—masuk jam 9 pagi, pulang jam 5 sore. Untungnya kantor memberikan aku izin untuk bolos kerja di jam-jam kuliahku. Berhubung hanya tinggal 1 mata kuliah yang harus diselesaikan pada saat semester pendek, dan Tugas akhir di semester berikutnya—jadilah aku dipusingkan dengan pekerjaan & tugas-tugas kuliah hanya dalam waktu kira-kira 9 bulan saja (ini sudah lumayan bikin pusing, lho! Hehee :D ).

✔  Niat yang Kuat.

Perlu niat yang sangat kuat untuk bisa menyelesaikan kuliah sambil kerja. Kebanyakkan yang aku lihat dari orang-orang di sekitar adalah, at the end.. mereka memutuskan untuk berhenti kuliah saja! Mungkin pikirnya, “Gue udah bisa nyari duit, ngapain lagi kuliah?!”. Iya kalo kerjaannya artis gak perlu kuliah, kalo mau jadi Arsitek ya selesain kuliah itu hukumnya wajib! Motivasi terbesarku waktu itu adalah.. my mom. Di satu sisi mami bangga aku sudah bisa kerja sebelum lulus, tapi mami selalu berpesan, “Kamu harus tetap menomorsatukan pendidikan dan mami mau lihat kamu di wisuda”. Kalopun sempet kepikiran buat give up salah satunya, waktu itu sempet kepikiran buat give up kerjaan. Soalnya kerja kan bisa dicari lagi nanti. Tapi Alhamdulillah sih, dikasih kekuatan sama Allah buat bisa menjalani keduanya sekaligus. :)

✔  Prioritaskan… keduanya!

Aku coba untuk tidak menomorduakan pekerjaan kantor ataupun tugas kuliah. Kadang nih… pas di kampus dan posisinya tugas-tugas udah selesai, aku buka laptop dan ngerjain kerjaan kantor—begitu juga sebaliknya. Pokoknya dibuat se-balance mungkin lah, dua-duanya harus diselesaikan dengan baik.

✔  Perhatikan kesehatan.

Namanya juga kerja sambil kuliah, aktifitas pastinya super padat. Pernah waktu itu aku harus lembur di kantor sampe menginap, besok paginya balik ke rumah cuma buat mandi, terus pergi meeting kerjaan kantor, habis meeting langsung ke kampus buat asistensi Tugas Akhir. Selain itu, sering banget habis subuh gak tidur lagi sebelum ngantor (padahal malemnya habis lembur) karena ada tugas kuliah yang harus di selesaikan. Supaya gak drop gara-gara kecapekkan, aku beli suplemen vitamin C buat meningkatkan daya tahan tubuh—and it definitely works!

✔  Be the Winner!

Begitu dinyatakan lulus saat sidang Tugas Akhir, I was really wanted to cry. Maklumlah, menjalani dua peran sekaligus memang cukup menguras tenaga dan pikiran. Jadi begitu bisa sampai di tujuan, rasanya benar-benar luar biasa! Well, salah satu motivasiku juga adalah aku mau merasakan kebanggaan saat memakai Toga beserta atributnya pada saat wisuda. Momen wisuda adalah momen kemenangan buatku—because I worked really hard to be there! Rasanya tuh semua kerja keras dan capek terbayar lunas, deh! :D

✩ “There is no happiness except in the realization that we have accomplished something.” Henry Ford

Tags:

❤ I Fall in Love (Again) ❤

28 Feb

Dear my lovely hubby……

I’m so sorry my love—but honestly, my heart isn’t only yours anymore. I fall in love again, and I couldn’t resist this. How could I resist? He’s growing inside of me.. Yes, dear.. I fall in love with our baby in my womb.. ᵔ.ᵔ

Sejak hamil, aku rutin cari informasi sebanyak-banyaknya tentang kehamilan. Maklumlahh, this is my first time—so I have no clue at all. Selain koleksi buku-buku kehamilan, aku juga aktif ikut suatu forum internet yang menyediakan informasi & sarana interaksi sesama wanita yang sudah, sedang, atau yang baru berencana untuk hamil. Dari forum itu juga aku dapat informasi yang selengkap-lengkapnya tentang kehamilan. Nama forumnya The Urban Mamaand thanks to you, now I’m not a clueless mom-to-be anymore..

Setelah masuk usia kandungan 4 bulan, si baby mulai bergerak secara aktif. Awalnya sih gerakkannya terasa seperti… there’s something tickling me inside my belly. Makin besar usia kandungan, gerakkannya juga semakin kuat. Kalo sekarang si baby sudah bisa membuat tinjuan / tendangan kecil dari dalam yang seringkali bikin aku kaget. Tapi… justru karena gerakkan nya yang aktif itulah yang bikin aku makin jatuh cinta sama si baby tercinta. ❤

Setiap kali baby bikin gerakkan, refleks aku mengelus2 bagian dimana dia ‘menendang’. Ajaibnya, si baby akan merespon balik sentuhan tangan aku dengan—well, ‘menendang’ lagi beberapa kali. These moment was precious to me. I love every single moves he made, because It makes me realize how real he was. I can clearly feel that there’s someone live inside of me, breath with me, eat with me. It’s something…magical. So how could I’m not in love with him? I fall in love with this baby, and really..really can’t wait to meet him. :)

Saking excited-nya menanti sampe saatnya baby melihat dunia—di usia kandunganku yang baru genap 6 bulan (minggu depan), aku sudah sibuk bikin ♪ ‘Baby’s Shopping List’ ♪. Naluri buat shopping keperluan si baby bener-bener kuat belakangan ini. Padahal sejak hamil hobiku hang-out di mal, apalagi shopping sempat menghilang lho! Entah karena bawaan (insya Allah) baby boy atau emang karena lagi hamil bawaannya males jalan-jalan. Tapi niat buat belanja keperluan baby aku tahan deh sebulan lagi. Bukannya karena aku percaya mitos yang bilang gak boleh belanja keperluan baby sebelum 7 bulan karena pamali atau apalah (seriously I don’t believe in these kind of stuff)—tapi lebih karena khawatir kalo belinya kecepetan nanti barang-barangnya jadi keburu ilang / rusak, jadi yaa sabar aja dulu deh!

Well.. sebenernya sih si hubby juga jatuh cinta sama si baby lho. I can feel it! I feel soooo happy everytime I see my hubby talk to our baby, rub my belly—and sometimes tickling it to communicate with our baby! Ajaibnya lagi, kalo lagi ‘diisengin’ sama daddynya, si baby akan bikin gerakkan-gerakkan ‘balasan’ buat si daddy. What a smart baby!

As I mention it (a lot), Insya Allah we’ll have a baby boy. Tapi namanya juga alat USG yang ‘cuma’ buatan manusia, keakuratannya yaa.. we never know. But.. as I always said, no matter if it’s a baby boy or a baby girl—we only concern about this baby’s healthy. Can’t wait to meet you in (about) the next 3 months, dear. :D

Dear our lovely baby……

Maybe we’re not a perfect parents, maybe I’m not a perfect mother.. But I promise you this.. We will always love you, take care of you and always be there for you—no matter what!

Tags:

Our (Short) Trip to Singapore

21 Feb

Day 1 : 13 February 2012

__The Arrival__

Pertama kali menginjakkan kaki di Changi Airport—yang terlintas di benakku adalah, “Woww!”. Yap, bangunan Airport milik Singapore ini memang didesain dengan sangat baik. Bukan hanya pada bagian eksterior, tapi juga interior dan sirkulasi bangunannya. Suasananya cozy dan kesan modern nya sangat terasa, soal kebersihannya—hahaa.. don’t ask!

(Terminal 1 kedatangan Changi Airport – Singapore)

Pesawat tiba di Terminal 1, sementara stasiun MRT ada di Terminal 2, jadi kami harus naik Skytrain (fasilitas kereta untuk transfer antar terminal) untuk menuju kesana. Berbekal Journey Planner yang sudah aku buat, hal pertama yang harus dicari begitu tiba di stasiun MRT adalah Ez-Link Card. Selain dijual di counter ticket, kartu ini juga dijual di 7-Eleven (minimart yang juga lagi happening di Jakarta itu lho!). Berhubung kami tiba di Singapore jam 10 malam waktu sana, otomatis counter ticket di stasiun MRT sudah tutup, dan kami juga tidak berhasil menemukan 7-Eleven. So, we have to buy the Standard MRT ticket at the ‘General Ticketing Machine’. Caranya ternyata sangat mudah, tinggal memasukkan uang dan mengikuti instruksi pada mesin tersebut.

Hotel Arianna tempat kami menginap terdapat persis di seberang pusat perbelanjaan murah meriah yang buka 24 jam yaitu Mustafa Center. Stasiun MRT terdekat adalah Farrer Park, exit melalui pintu keluar F—jalan sebentar dan voilaaa… sampe deh di Mustafa Center. Jarak tempuh dengan berjalan kaki dari stasiun MRT ke hotel kira-kira hanya memakan waktu sekitar 7 menit.

(Pose di depan pintu keluar F stasiun Farrer Park)

__Arianna Hotel Review__

This is a pretty good budget hotel. Harganya relatif murah, sekitar 500 ribuan per-malam (harga promo via agoda.com untuk standard room : 2 adults). Kamar tidur dan kamar mandinya bersih, terdapat air panas, free wi-fi (bahkan di dalam kamar), full AC, dan terdapat juga lift sehingga tamu tidak perlu capek naik turun tangga. In my humble opinion, kekurangan hotel ini yaitu ukuran kamar yang relatif kecil, no breakfast include dan spring bed nya kurang nyaman karena agak keras.

(Arianna Hotel – Singapore)

Day 2 : 14 February 2012

__Indian (Halal) Foods__

Actually, kebanyakkan restoran yang bersertifikat Halal di Singapore adalah resto Ala India. Kebetulan kami menginap di dekat Mustafa Center yang notabene merupakan kawasan tempat tinggal warga keturunan India. Rasa makanannya? Hmmm.. tergantung selera masing-masing orang sih. Kalo menurutku, Nasi Padang ala mereka rasanya cocok di lidah. Ayamnya juga cukup enak, lho! Sayangnya menu nasi gorengnya kurang “nendang”, it feels like there’s something missing in there. Apalagi nasi Briyanni nya, sorry to say…I don’t like this kind of rice. Oya.. setiap makanan yang disajikan pasti disertai sama kuah, hmmm… semacam kuah kare atau apa entah—tapi rasanya enak kok.

(Salah satu menu Paket Ayam ala Indian Resto)

__Ez-Link Cards__

Thank God, there’s a 7-Eleven store near our hotel! Jadi kami bisa langsung beli kartu EZ-Link sebelum naik MRT lagi menuju Universal Studios. Kebetulan di MRT Farrer Park yang terdekat dengan hotel, tidak terdapat counter penjualan kartu EZ-Link. Fyi, gak di semua stasiun MRT melayani penjualan kartu EZ-Link, daftar tempat penjualan kartu EZ-Link bisa dilihat disini. Kenapa lebih baik punya kartu EZ-Link dibanding beli standard tickets? Soalnya setelah aku browsing ternyata standard tickets harganya lebih mahal 0.5 SGD / trip. Misalkan harga tiket MRT dengan kartu Ez-Link rute Airport – Farrer Park adalah 1.79 SGD, tapi untuk harga standard tickets dengan rute yang sama adalah 2.29 SGD. IMO, kalo beli kartu ini juga lebih praktis (gak perlu antri beli tiket setiap mau naik MRT), dan harga kartunya sendiri cuma 5 SGD. Minimum top-up kartu yaitu 10 SGD, top-up bisa dilakukan di semua General Ticketing Machine yang ada di semua stasiun MRT di Singapore.

(Standard Tickets & EZ-Link Cards)

__Universal Studios Singapore__

This is the top reason why are we going to Singapore! Yap, Universal Studios Singapore atau USS sekarang jadi destinasi favorit kebanyakkan turis yang pergi ke negara Singa ini. Transportasi umum ke USS sangat mudah, cukup naik MRT ke Stasiun Harbour Front yang terletak di lantai basement mall VivoCity. Exit dari stasiun MRT tinggal ikuti papan petunjuk jalan dalam mall VivoCity, terus naik ke lantai 3 menuju Sentosa Station (stasiun Monorail tujuan Pulau Sentosa). Enaknya lagi kalo sudah punya EZ-Link Card, ya tinggal tap kartu di gate seperti biasa—gak perlu beli tiket masuk khusus lagi. Harga nya cuma 3 SGD aja kok sekali masuk (PP) ke Pulau Sentosa. Dari stasiun Sentosa langsung aja naik monorail dan berhenti di pemberhentian pertama Waterfront Station, and.. welcome to Universal Studio Singapore.

(Sentosa Station – Monorail – Pulau Sentosa)

Harga tiket masuk Universal Studios Singapore yaitu 68 SGD/orang (non-peak season). Untuk permainan lengkap yang terdapat di USS, langsung aja cek di websitenyathey’re amazing! Unfortunately.. dalam kondisi sedang hamil 5 bulan, sudah pasti aku gak bisa sembarangan naik permainan-permainan yang ada disana, terlebih lagi..sebagian besar track di USS memang cukup riskan buat wanita hamil. Hmmm… it’s a little bit out if my plan! Maklum, tiket pesawat ke Singapore kan sudah di pesan sejak tahun lalu (sebelum aku hamil), dan memang aku tertarik diajak ke Singapore sama kakakku ya karena USS ini. But.. well, my baby’s health is my priority right now. I won’t take any risk for this baby. And—hey, we can go back to USS anytime, right? Mungkin nanti begitu si baby ini sudah cukup besar dan bisa menikmati track-track disana, we’ll come to this place again. :)

(Di depan pintu masuk USS)

Ada 5 track yang bisa aku naiki… Madagascar A Crate Adventure (bumper boat), King Julien’s Beach (merry go round), Shrek 4D Adventure (untungnya disini ada seat khusus yang aman untuk wanita hamil), Donkey Live Show, & Treasure Hunters (jeep car). Well, berhubung aku punya banyak waktu luang (a.k.a bengong / jadi bag keeper rombonganku) selama di USS, jadinya aku memuaskan diri dengan berfoto-foto ria disana. Thank God.. si hubby tercinta mau meluangkan sebagian waktu (bermain)-nya buat menemani aku foto-foto. Here’s some picture I love the most…

(With my lovely hubby @ USS)

We had lunch at Oasis Spice Cafe. Sejak awal aku memang sudah merencanakan mau makan siang disini, karena selain resto ini bersertifikat halal, letaknya juga terdapat di tengah-tengah USS (zona Ancient Egypt). Menu disana bervariasi, tapi (lagi-lagi) cita rasanya masih berbau Indian Foods. Syukurlah USS menyediakan sebuah mushala kecil (lengkap dengan tempat wudhu, sajadah dan mukena) yang terletak di antara zona Ancient Egypt & Sci-Fi City (jelasnya lihat di Peta USS yang bisa di ambil di pintu masuk).

Anyway, Zona Sci-Fi City adalah favoritku. Banyak spot-spot foto yang menarik disana dan track Transformers (katanya) seru banget—rombonganku sampai pada naik 2x di track ini! Disana juga ada mobil robot Bumblebee (itu lho robot kuning yang ada di film Transformers), bahkan gak lama ada robotnya yang bisa di ajak foto-foto! Sempat ada juga pertunjukkan Street Dance yang..hmmm…amazing! Setelah puas bermain dan foto-foto, belanja deh pernak-pernik USS yang dijual di USS Store dekat pintu keluar USS. And yess… here’s some pictures with my family at Universal Studios Singapore…

(With my family @USS)

__Songs Of The Sea__

Tujuan berikutnya adalah pertunjukkan Songs of the Sea yang juga terdapat di Pulau Sentosa. Untuk menuju kesana tinggal kembali ke halte monorail tadi, dan naik monorail menuju ke Beach Station. Untuk turis yang sudah membeli tiket online, jangan lupa tukarkan print out booking confirmation dengan tiketnya di Halte Beach Station atau bisa juga di Sentosa Station (halte pemberangkatan awal). Berhubung kami tiba di Sentosa Beach jam 6 sore, dan pertunjukkan kami jam 8.30 malam, jadilah kami makan malam dulu di MC Donalds yang terletak persis di sebelah gedung iFLy Singapore. Hmmm… yummy and pretty cheap! Hahaaa…

Songs of the Sea adalah pertunjukkan air mancur yang dipadu dengan efek lighting yang amazing! Pertunjukkan ini juga punya alur cerita, jadi bukan sekedar permainan air mancur biasa. Harga tiket masuknya 10 SGD (standard seat), 15 SGD (premium seat). It’s a spectacular show! Worth to see! :D

(Di depan Gedung iFly – MCD iFly – SOTS Ticket – The Show)

Day 3 : 15 February 2012

__Shopping At Mustafa Center__

Belanja oleh-oleh murah meriah di Singapore pastinya di Mustafa Center, dong! Semua ada disini, mulai dari perlengkapan sehari-hari, semua jenis oleh-oleh, sampai gadget—pokoknya lengkap deh. Kalo belanja disini, jangan lupa beli cokelat. Merknya beragam, mulai dari yang murah (sekitar 2 SGD / pack), sampe yang mahal. Tapi untuk oleh-oleh berupa pernak-pernik / aksesoris, aku prefer beli toko-toko kecil yang banyak terletak di seberang Mustafa Center. Pada toko khusus oleh-oleh ini, ada beragam pilihan pajangan, aksesoris, gelas, kaos yang lucu-lucu harganya 10 SGD/3 buah, ada juga yang seharga 10 SGD/2 buah, atau 10 SGD/buah. Gantungan kunci & gunting kuku harganya lebih murah lagi hanya 10 SGD/5 buah. Dijamin puas deh belanja oleh-olehnya! Heheee :D

__Shopping At Plaza Singapore__

Puas belanja di Mustafa Center, kami mampir ke Plaza Singapore. Di Mal ini terdapat beragam toko-toko branded. Tujuan utama kesini sih kakakku yang mau belanja Charles & Keith yang memang asalnya dari Singapore (she’s so in love with this brand). Katanya sih… kalo dirupiahkan, masih lebih murah kalo belanja barang-barang branded di Singapore daripada di Indonesia.

Setelah puas belanja, kami makan siang di MCD yang terdapat dalam mal ini. And surprisingly.. my father brought us a cake! Yap, 15th February is my parent’s wedding anniversary—dan tahun ini tepat ulang tahun pernikahan mereka yang ke-26. Setiap tahun, papi memang selalu beli kue & hadiah buat mami. Waktu kami anak-anaknya masih kecil sih sering kecipratan hadiahnya juga, kalo sekarang dapat kuenya aja, hehehee… Well, we’re wishing you both a happily wedding, like always.. mom & dad! :D

(Happy 26th Wedding Anniversary for our parents)

__Esplanade & Merlion Park__

Setelah Plaza Singapore kami pergi mengunjungi Esplanade Theaters. Para Arsitek pasti sudah sangat familiar dengan bangunan yang satu ini. Bentuknya unik, agak mirip durian—bisa dibilang menjadi salah satu destinasi wajib untuk sekedar foto-foto di depannya. Dari Esplanade, kami berjalan kaki sekitar 15 menit melewati jembatan yang terletak di atas Merlion River. Sambil jalan menyusuri jembatan, kami foto-foto sebentar dengan background Esplanade tadi, atau Marina Bay Sands. It’s a good place to hang! :)

(Foto-foto di sekitar Merlion River)

__Goodbye Singapore__

Setelah puas dan capek foto-foto di sekitar Merlion River, kami kembali ke hotel dengan naik MRT dari Stasiun Esplanade untuk mengambil koper-koper yang tadi kami titipkan setelah check out di hotel. Istirahat sebentar di Masjid Anguilla seberang Mustafa Center, baru deh shalat. Habis shalat kami makan di Mohammed Resto yang terletak pas di seberang masjid. Perjalanan dari hotel ke bandara kami tempuh lewat MRT—like always :D

Overall, this is a really nice trip. New Place, new experience. I think someday we’ll go back to this country again. Kapan ya Indonesia—at least Jakarta punya sarana transportasi sebaik negeri ini? Hmmm… maybe in my dreams! Well, see ya later Singapore! :D

Tags: ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 852 other followers