The Day He was Born

Ada saatnya terlalu banyak informasi itu malahan bikin pusing sendiri, memang sih di sisi lain membuat pengetahuan kita semakin luas, tapi kadang malah menimbulkan berbagai pertanyaan baru bermunculan. Contohnya ya waktu menjelang persalinan kemarin. Semua sumber informasi, semua buku yang membahas mengenai persalinan aku kumpulkan dan aku baca. Cerita persalinan dari sana sini pun aku dengar. Makin siap? Nggak! Makin pusing? Iya! Lha kok bisa?!

Namanya juga kehamilan pertama, persalinan yang pertama pula, wajarlah kalo calon ibu merasa deg deg kan setengah mati begitu waktu persalinan semakin dekat. Belum lagi ditambah cerita horor kebanyakkan orang tentang persalinan normal, bukannya memotivasi malahan kebanyakkan itu bikin nyali semakin ciut! Well, tanpa banyak basa-basi lagi, aku mau cerita pengalaman persalinan ku kemarin—and I swear to God, this is not a scary story

31 weeks 6 days  I  Kamis, 14 Juni 2012

HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku adalah tanggal 15 Juni 2012—which is the deadline is tomorrow! Semua usaha sudah aku lakukan, rajin jalan kaki, pregnancy fitness, bithball exercise, sampe pregnancy pilates, tapiiiii… belum ada sedikitpun tanda-tanda persalinan. Sampe aku capek ditanya sama orang-orang tentang, “Kapan lahiran?”, “Kok masih belum lahiran”, ada juga pertanyaan ‘tuduhan’ macam, “Makanya yang rajin dong jalan kaki, kalo senam-senam mah gak ngaruh!”, WHAT?! Fyi, aku rajin banget olahraga setelah cuti hamil (saat umur kehamilan 30 minggu), selain supaya persalinan lancar, banyak berolahraga saat hamil bikin tubuh lebih bugar dan keluhan-keluhan hamil seperti, kaki bengkak, sakit punggung, itu musnah.

Photo – My “magic” Birth Ball

Singkat cerita, akhirnya pada hari Kamis 14 Juni 2012 (HPL minus 1), aku nekat ikut si hubby kerja seharian. Kebetulan kantor hubby ada di Gandaria 8—which is jadi satu sama mal Gandaria City. Jadilah seharian aku muter-muter di mal Gandaria City, catet ya.. SENDIRI! Apa boleh buat, hari kerja begini, temen-temen seumuran pastinya pada sibuk di kantornya masing-masing. Lagian juga aku pikir, walaupun jalan di mal sendiri, toh hubby kerja di lantai 10 doang kok! Senadainya waktu itu mules-mules, ya pasti masih sempet telepon hubby terus kita langsung ke rumah sakit, toh aku juga sudah bawa juga koper berisikan keperluan bersalin di dalam mobil.

Mulai dari pagi aku muter-muter tanpa tujuan di mal. Jalan-jalan di department store, sampe hampir semua outlet aku kunjungi. Berhubung tujuan utama di mal adalah “jalan kaki” nya, makanya aku menahan diri setengah mati supaya gak asal belanja, maklum namanya mau lahiran pasti kan harus pinter saving money🙂 Begitu siang, aku istirahat makan siang dan duduk-duduk di mushola mal. Tempatnya nyaman banget, makanya sekitar sejam aku duduk di musholla. Setelah cukup beristirahat, aku terusin lagi jalan kakinya di mal—sampe jam kerja hubby selesai.

– 17.00 WIB –

Magically, mulas kontraksinya mulai baru kerasa begitu aku sudah di mobil perjalanan pulang sama hubby. Jarak antar kontraksinya masih jauh-jauh, sekitar 20 – 30 menit, dan tingkat kontraksinya masih rendah, rasanya tuh persis mulas pada waktu PMS. Ditambah lagi, aku sendiri sebenarnya waktu itu belum yakin ini mulas kontraksi persalinan, jadi masih dibawa santai.

– 21.00 s/d 00.00 WIB –

Kontraksi makin lama makin terasa. Jaraknya sudah per 10-15 menit. Tingkat mulasnya mulai bikin gak nyaman, dan gak bisa tidur. Aku dan hubby tetap rutin memantau jarak antar kontraksi. Si hubby yang tadinya janji mau menemani aku semalem suntuk menghadapi si mules kontraksi ini, ternyata malah pules tidur tuh pas tengah malam. Alibinya, “Biar aku stand by nemenin kamu pas persalinan, sayang.”. Hahahaa.. yeahh whatever, darling! 

32 weeks  I  Jumat, 15 Juni 2012

– 00.00 s/d 07.30 WIB –

Semaleman aku gak bisa tidur. Kontraksinya sudah rutin per 5-10 menit. Gimana bisa tidur? Baru juga merem udah keburu mules. Tapi berhubung belum ada flek sedikitpun, jadi shalat 5 waktu tetep bisa jalan terus.

–07.30 WIB –

Okay, I couldn’t handle it anymore! Kontraksinya udah semakin hebat dan jaraknya makin deket. Jadilah aku periksa ke Rumah Sakit diater sama mami dan hubby tersayang. Sampe di RS perutku dipasangi alat CTG (semacam peninjau detak jantung bayi), dan periksa dalam. Ternyata masih bukaan satu. WHAT?! BUKAAN SATU BEGINI RASANYA!!!!! Fyi, bukaan satu berarti artinya “jalan lahir” bayi baru membuka 1 cm—sementara bukaan lengkap (yang dibolehkan mengejan) itu adalah bukaan 10 (yang berarti 10 cm). Seems like a long way to go, right.

Akhirnya aku ngotot minta pulang ke rumah dulu. Soalnya belum ada flek darah juga kan, dan setauku bukaan 1 prosesnya masih panjaaangg. But seems like I was so wrong…

–09.00 WIB –

Pulang dari RS, dirumah aku memaksa diri buat jalan kaki, bahkan latihan dengan birthball. Ternyata cara ini cukup ampuh buat sedikit melupakan “rasanya” kontraksi—bahkan ampuh juga membuat persalinan berjalan dengan lancar.

–12.00 WIB –

Menghadapi kontraksi ini, seringkali aku merasa capek, gak berdaya, dan yap…I really want to give up!  I cried…so many times—a lot!  Jujur, makin siang kontraksi makin gak bearable. And when I pray at dzuhur, I ask God, “God, please help me to going through of it. This is so hard.. so hard.. I don’t think I can handle it anymore”😥

–15.20 WIB –

Begitu dengar azan Asar, aku langsung shalat. Sakitnya kontraksi udah makin gak bisa ditahan, jadi habis shalat aku minta hubby dan mami untuk mengantar aku ke RS lagi. Finally, tepat setelah berdoa minta dilancarkan saat persalinan nantinya, si flek darah muncul. Begitu ke RS di periksa detak jantung bayi masih oke, dan ternyataa… aku sudah bukaan 4. Woww, it was pretty fast for a new mom like me!

–16.00 WIB –

Baru juga mau dipindah ke ruang persalinan, air ketuban pecah. Diperiksa dalam sudah bukaan 6. Alhasil aku stand by di ruang persalinan dan terus di pantau sama para dan si dokter sudah di perjalanan menuju rumah sakit. Bagian ini paling sulit dan menyebalkan, kenapa? Soalnya bukaan belum lengkap tapi hasrat untuk mengejan itu kuaattt banget! It feels like you want to poo SO MUCH, but you MAY NOT poo! Hahaaa! That was sucks right?😀

–17.10 WIB –

Alhamdulillah, proses bukaan berjalan cepat. Jam 5 sore bukaan sudah lengkap. Jadi, proses mengejan untuk mengeluarkan bayi bisa dimulai. Honestly, I don’t really remember how that was. But please, jangan bayangin proses lahiran seperti di sinetron, dimana si ibu teriak-teriak gak karuan. Kenyataannya, saat mengejan si ibu harus pintar melakukan teknik menarik napas, tidak boleh memejamkan mata saat mengejan dan si ibu dilarang teriak oleh dokter—katanya jangan sampe energi terbuang percuma untuk teriak.

–18.00 WIB –

Tepat sesaat setelah adzan maghrib berkumandang, malaikat kecilku lahir ke dunia. Berat badannya 3 kg, panjang 48 cm. Sayangnya, berhubung air ketuban sudah keburu hijau, dan dikhawatirkan bayi menelannya, jadi aku gak dikasih kesempatan untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Si hubby yang ikut mendampingi saat persalinan langsung ikut melihat proses anak kami dibersihkan, setelah itu baru hubby diberi kesempatan untuk adzan di telinganya.

Photo  –  Baby Arfa yang baru lahir

The hardest part is.. I didn’t get a chance to hug—or even see my baby right after he was born. Arfa—my baby, harus di inkubator selama kurang lebih 5 jam. Setelah proses persalinan selesai, dokter menyuruh aku buat beristirahat. Sayangnya, aku bener-bener gak bisa tidur. I really want to see my baby. Tapi aku harus menunggu 5 jam lagi sampe akhirnya Arfa di bawa oleh suster ke kamarku.😦

Well, melahirkan memang tidak mudah dan aku juga gak bisa bilang ini gak sakit—but I think every single pain was worth it! The first time I saw him, the first time I breasfeed him, the first time I hug & kiss him… I WILL NEVER FORGET THAT MOMENT for the rest of my life. It was so precious, nothing can replace it. I fell in love with that little one, and I knew.. it will last forever. ♥

Photo – Hubby, Baby Arfa & Me

P.S : Bithball exercise, pregnancy fitness & pilates sukses mempercepat proses lahiranku. Suster bilang, untuk persalinan normal pertama kali, proses bukaan ku termasuk cepat dan lancar. So, buat para expected moms, jangan malas untuk berolahraga supaya persalinan dapat berjalan dengan lancar. Cheers🙂

2 thoughts on “The Day He was Born

Write It here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s