My Second Pregnancy Story : How did I Get There?

It took me a little while until I decide to have another baby. Well, banyak banget sebenarnya sih “suara” disana sini yang bilang…

“Jangan dijarak terlalu jauh, mending capek sekalian urus anak.”

“Masih muda, gak usah ditunda-tunda lah punya anak lagi”

“Kapan mau punya anak lagi? Ayolah buruan di program lagi, jangan kejauhan jaraknya.”

Dan bla blaa blaaa…. *masuk kuping kiri keluar kuping kanan*🙂

thKalau ada yang tanya, sebenernya aku nunggu apa sih kok masih belum kepingin program anak lagi pada waktu itu? Bingung sih sebenernya jawabnya. I was just waiting for the right time, the time when I talk to my self, “this is it, this is the right time and I’m ready for it!”. Proses kehamilan dan membesarkan anak bukan sesuatu yang instan, this is a lifetime commitment and responsibility. Tanggung jawab dunia akhirat, lho! Bukan juga aku gak percaya bahwa setiap anak ada rezekinya masing-masing. But at the end, you need money to raise a kid, right? To make sure they have a proper life, proper foods, proper education,  entertainment, and most important is how to make sure we are directing them to a right life, yang sukses bukan cuma di dunia tapi juga akhirat. That was such a huge responsibility, jadi kenapa harus buru-buru?

Instead, aku juga punya beberapa travelling list sebelum hamil lagi anak kedua, mau second honeymoon ke Bali lagi (well walaupun perginya sama Arfa juga jadi bukan full honeymoon🙂 ) , mau jalan-jalan ke kampung halaman suami di Malang Jawa Timur dan memenuhi janji untuk ajak Arfa ke Disneyland. Alhamdulillah kesampean semuanya, walaupun sihhh.. pas ke Hongkong udah keburu hamil :p

Honestly, sejak Arfa umur 3 taun, mulai timbul suara-suara dalam diri sendiri buat program baby lagi. Tapi niat masih maju mundur, nanti yakin mau program, lalu hari berikutnya masih galau. Puncaknya di awal tahun ini dapat tawaran karir dengan posisi yang cukup bagus, buyar lah semua keinginan program baby itu. Then I was compromise to my self and my husband, “let’s wait for one more year. Let me build my career here, first”.

Tapi memang manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Allah yang menentukan, ya?🙂

Di bulan ke-3 bekerja di kantor baru, mulai timbul perasaan kuat buat program bayi lagi-entah kenapa. Padahal karir posisi lagi bagus-bagusnya, but I couldn’t fight the voice inside me to say this word to my husband, “I think this is the time. Let’s have another baby”. Of course my husband was super happy, since he was so ready to have another child.

Singkat cerita, di akhir pekan itu, pulang kerja aku mampir ke rumah sakit Mitra Keluarga Cibubur sendirian dengan niat mau mulai cek kondisi rahim, rekomendasi cek darah untuk program hamil dan lain lain. Kebetulan waktu itu memang dalam kondisi telat datang bulan sekitar satu minggu, tapi aku pikir hanya sekedar telat seperti biasa aja. Fyi, aku memang sudah terbiasa banget ke obgyn sendiri sebelumnya, ya untuk KB, cek rahim, papsmear, dan sebagainya. But that night, she said a surprising word, “Selamat ya, Bu. Ibu hamil. 5 minggu”

I was shaking, speechless, and surprised—in a good way. Semua pertanyaan yang aku bikin list-nya di handphone adalah seputar program kehamilan, lalu tiba-tiba dibilang sudah hamil? Aku harus tanya apa dong?🙂

Even though me and all of my family are excited about this pregnancy, I choose not to spread the news until I reach 2nd trimester. Jadi yang awalnya tau murni hanya keluarga, dan teman dekat saja. Alhamdulillah kehamilan trimester awal juga relatif lancar tanpa muntah seperti di kehamilan yang pertama kemarin, jadi gak ada halangan berarti selama di kantor. Bahkan si baby sama sekali tidak rewel pas di ajak jalan-jalan ke Macau-Hongkong! Such a smart baby❤

photo-10-26-16-11-40-23-pmJadi memang keputusanku untuk mengabaikan komentar orang-orang terkait jarak antar anak adalah sebuah keputusan yang tepat. Me and my husband knows better what fits our family the best more than anyone else. Dengan persiapan yang lebih matang, baik secara psikis dan finansial memang membuat aku menjalani kehamilan sebagai suatu proses yang menyenangkan. It’s (still) not easy—but fun.  So let me thank Allah SWT for givng this baby to us, in a right time. Please be healthy, baby, Can’t wait to meet you next December (Insya Allah) ❤

Write It here...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s